Adakah Yang Lebih Patut Menjadi Idola Selain Nabi Muhammad SAW?

Adakah Yang Lebih Patut Menjadi Idola Selain Nabi Muhammad SAW?

September 17, 2018 0 By maya

Adakah Yang Lebih Patut Menjadi Idola Selain Nabi Muhammad SAW – Semua manusia pasti selalu merasa memilki kekurangan. Oleh karena itu, banyak orang mengidolakan sesuatu karena mereka melihat kelebihan dari idolanya itu. Kelebihan itu bisa berupa kecantikan, kekayaan, ketampanan, kepandaian, dan lain sebagainya. Mereka berharap bisa menjadi seperti orang yang diidolakannya, dengan mengikuti perilakunya, gaya hidupnya, bahkan penampilannya. Jika mereka memperoleh berita yang tidak menyenangkan tentang keburukan idolanya, mereka hanya mengelak dengan mengatakan bahwa itu gosip yang belum pasti kebenarannya.

Bagaimana dengan mengidolakan Rasulullah? Rasulullah, adalah tokoh yang segala sisi kehidupannya telah diriwayatkan, bahkan hal yang sangat privasi sekalipun, dimana banyak hal yang sangat pantas dijadikan teladan. Allah pun memujinya dalam surat Al Qalam ayat 4,sebagai berikut“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Jadi sangatlah pantas kita mengidolakan orang yang Allah pun telah memujinya.

Namun realita saat ini sangat menyedihkan. Dapat kita lihat program-program televisi yang menayangkan pertemuan fans dengan idolanya, dimana mereka begitu mengagung-agungkan idolanya, rela melakukan hal apa saja untuk dapat bertemu dengan idolanya, bahkan meniru gaya penampilannya. Bagaimana dengan mengingat Allah dan Rasul-Nya? Mereka lebih mengikuti seruan idolanya dan mengesampingkan seruan Allah dan RasulNya. Salah satu contohnya adalah menunda sholat saat adzan tiba, demi mengikuti tayangan televisi yang sedang menayangkan idolanya, menghambur-hamburkan uang untuk menonton konser musik, membeli barang-barang untuk meniru tokoh idolanya, bahkan sampai mengikuti gaya hidupnya. Bagaimana dengan berdzikir, beribadah, bershalawat, mengikuti kajian-kajian, bersedekah? Jangan berfikir mereka yang diidolakan itu akan dapat menolong di hari kiamat kelak, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 166-167 sebagai berikut,“(Yaitu ) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: ”Seandainya kami dapat kembali ( ke dunia ), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana ( pada hari ini ) mereka berlepas diri dari kami…”. Beda halnya dengan Rasulullah yang merupakan orang yang telah dijamin masuk surga.

Sangat memalukan saat umat Islam ditanya siapakah idolanya, dan jawabannya bukanlah Rasulullah SAW. Sedangkan diluar sana, banyak orang-orang non-muslim yang telah mengidolakan Rasulullah dan mengakui kehebatannya. Contohnya adalah Michael H. Hart yang telah menulis bukuSeratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, dimana dia telah menjadikan Rasulullah sebagai tokoh nomer satu mengungguli Isaac Newton (1642-1727), Nabi Isa (6 SM-30 M), Buddha (563-483 SM), Kong Hu-Chu (551-479 SM), dan tokoh-tokoh dunia lainnya. Beberapa tokoh non-muslim lain yang mengidolakan Rasulullah adalah kaisar terbesar Prancis, Napoleon Bonparte (1769-1821), ia mengidolakan kehebatan Rasulullah SAW, sebagai seorang Panglima Perang. Demikian pula Johan Wolfgang von Goethe (1749-1832), pujangga kenamaan asal Jerman, ia mengidolakan Rasulullah SAW, karena kemuliaan akhlaknya. Juga ilmuwan sekaliber Annemarie Schimmel (1922-2003), ia mengidolakan Rasulullah karena kesalehannya. Bahkan orang-orang Quraisy jaman dahulupun mengakui akhlak beliau yang sangat jujur, terbukti dengan banyaknya orang-orang yang menitipkan barang kepada beliau saat berpergian.

Ada banyak alasan mengapa Rasulullah pantas dijadikan idola.

Pertama, mengidolakan Rasulullah adalah wajib bagi umat Islam, karena merupakan rukun iman yang keempat. Allah-pun berjanji untuk mempertemukannya di akhirat kelak, dimana Rasulullah telah dijamin masuk surga, seperti dalam surat An-Nisa’ ayat 69 sebagai berikut“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

Alasan lainnya Rasulullah manusia paling sempurna, dalam sisi manapun; Fisik dan kejiwaan, mental dan spiritual, fikir dan dzikir. Dari segi fisik beliau sangat ganteng, badannya atletis, proposional, tegap, harum. Dari segi intelektual, pemikirannya hebat, keputusannya akurat, strateginya brilian, dan ahli bidang bisnis maupun pemerintahan. Dari segi akhlak, beliau adalah manusia paling dermawan, penyabar, ahli syukur, pemaaf, ahli ibadah, sampai kakinya bengkak karena lama mendirikan sholat. Ali bin Abu Thalib ra, bercerita “Akhlak Rasulullah SAW, mudah dicontoh, ramah, tidak kasar, tidak keras, tidak suka menyindir, tidak berkata kotor, tidak suka mencela, tidak suka main-main, dan cepat melupakan apa yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapkannya, tidak pernah putus harapan kepadanya. Beliau tidak suka mengecewakan. Beliau meninggalkan tiga hal untuk manusia, yaitu beliau tidak pernah mencela seseorang dan tidak pernah menghinanya, tidak pernah membuka rahasia seseorang, dan tidak berbicara kecuali dalam hal-hal yang mendatangkan pahala. Jika beliau berbicara, pendengarnya diam dan tenang, jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah bersilat lidah di sisi beliau. Beliau tertawa pada hal yang membuat mereka tertawa dan beliau bersabar terhadap orang asing atas kekasaran pembicaraan dan permintaannya, walau para sahabatnya menjawab dengan kasar pula. Beliau bersabda, Jika kalian melihat orang yang memerlukan bantuan, bantulah. Jangan menerima pujian kecuali dari hal yang pantas dan jangan memotong pembicaraan seseorang sampai ia mengizinkan”(HR. Ath Thabrani).

Cerita lainnya adalah kemuliaan beliau yang sering dilempari kotoran oleh orang yang membencinya, tetapi Rasulullah membalasnya dengan mendo’akan kebaikan untuknya. Rasulullah sangat menyayangi umatnya, bahkan saat menjelang ajalnya, yang beliau ingat hanyalah berdoa untuk umatnya, yaitu dengan mengucapkan “ummati, ummati, ummati” Begitu banyak hal yang patut dijadikan alasan untuk menjadikan Rasulullah sebagai idola. Namun, tidak hanya dibibir saja menjadikan Rasulullah sebagai idola, kita harus dapat menjadikannya contoh dalam berperilaku sehari-hari. Kita dapat mengetahuinya melalui buku-buku shiroh Rasulullah. Banyak orang Islam mengaku mengidolakan Rasulullah tetapi masih berperilaku kasar, suka marah-marah, tidak sabar, dan lain sebagainya. Sebaiknya hal ini bisa dijadikan introspeksi diri dan motivasi kita untuk selalu memperbaiki tingkah laku dan akhlak kita dengan meneladani Rasulullah Saw.

Sumber: demangannews