Perjuangan Nenek Supinah Untuk Berhaji

Perjuangan Nenek Supinah Untuk Berhaji

September 3, 2018 0 By maya

 

Perjuangan Nenek Supinah Untuk Berhaji – Luar biasa perjuangan nenek Supinah (76), asal Ponorogo, Jawa Timur ini. Demi mewujudkan mimpinya sejak muda untuk pergi berhaji ke Tanah Suci Mekkah, janda tanpa anak ini rela mengencangkan ‘stagen’ (ikat pinggang kain panjang yang biasa dikenakan kaum perempuan).

Puluhan tahun setelah suaminya meninggal, nenek Supinah terus berhemat. Setiap hari, dia hanya memasak beras dua gelas kecil dengan lauk dan sayuran ala kadarnya. Seperti sambel terong dan bayam. Lauk paling enak yang pernah dimakannya adalah tahu dan tempe.

Sementara untuk hidup sehari-hari, sejak muda, nenek sebatang kara yang tinggal di Dukuh Krajan, Ngrupit, Kecamatan Jenangan ini bekerja sebagai buruh tani dengan upah Rp 500. “Terus naik Rp 20 ribu sampai 30 ribu rupiah perhari,” kenangnya saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES) Sukolilo, Sabtu (28/7).

Karena sudah sejak muda bercita-cita pergi haji, uang yang didapatnya dari bekerja sebagai buruh tani itu dia kumpulkan sedikit demi sedikit. “Uangnya saya simpan di bawah amben (ranjang kayu),” katanya.

Ketika terkumpul sekitar Rp 300 ribu, uang simpanannya itu dia titipkan ke tetangga depan rumah yang dipercayanya. “Lama nyimpennya, uangnya sampe dimakan rayap dan jamuren,” sambungnya.

Medio 2010, uang yang dititipkan ke tetangganya itu terkumpul lebih dari Rp 25 juta rupiah. Selanjutnya, dengan diantar tetangga dekatnya, nenek Supinah daftar haji dan menjadi salah satu calon haji (Calhaj) tahun 2018 ini. Dia bergabung dengan kelompok terbang (kloter) 37 rombongan 8 asal Ponorogo.

Sementara menurut si tetangga yang juga satu rombongan haji dengan nenek Supinah, menceritakan, kalau nenek 76 tahun ini tinggal di rumah sangat sederhana. Tak ada barang berhargapun yang menghiasi gubuknya.

“Kasihan, sepedapun tak punya. Dinding dan lantai rumahnya banyak ngelupas dan pecah. Layak dapat bantuan. Semoga ada yang mau bedah rumah mbah Supinah,” sahut tetangga yang mendampingi nenek Supinah.

Tak hanya itu, masih cerita tetangga nenek Supinah, saat ini nenek sebatang kara ini juga sudah tidak lagi bekerja sebagai buruh tani. “Ya karena usianya sudah lanjut, sudah hampir satu tahun ini sudah tidak bekerja sebagai buruh tani,” ungkap si tetangga lagi.

Saat ini, sehari-harinya, nenek Supinah bekerja ala kadarnya. Kadang, dua hari sekali, di memetik bunga turi dari pohon turi milikinya untuk dijual. “Dari jualan bunga turi itu, beliau bisa dapat uang Rp 5 ribu sampai 10 ribu rupiah. Uangnya bisa buat beli beras, garam untuk makan. Turinya juga kadang buat makan,” timpal nenek Supinah

Semoga ini dapat menjadikan pembelajaran untuk kita semua bahwa berapapun penghasilan asalkan niat semuanya dapat dicapai.

Sumber: merdeka