Puasa Tasu’ah dan Asyura (9-10 Muharram)

Puasa Tasu’ah dan Asyura (9-10 Muharram)

September 19, 2018 0 By maya

Apa itu puasa Tasu’ah dan Asyura? Mengapa kita dianjurkan untuk berpuasa di hari tersebut?

Puasa merupakan ibadah yang sangat mulia di hadapan Allah swt, namun selain itu juga puasa memiliki banyak sekali manfaat bagi kita. Puasa sangatlah bermanfaat bagi tubuh dan kesehatan, selain itu puasa juga merupakan sarana untuk kita meredam amarah dan menahan diri dari hal-hal yang tidak diperbolehkan saat berpuasa.

 

Selain puasa yang diwajibkan dalam satu bulan penuh, ada juga puasa-puasa lainnya seperti yang akan kita bahas berikut ini. Puasa Tasu’ah dan Asyura atau puasa  yang dilaksanakan pada tanggal 9-10 bulan muharam. Puasa di bulan muharam juga merupakan puasa yang paling utama setelah puasa dibulan ramadhan. Sebagaimana dikatakan dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam.

 

Puasa yang paling utama di bulan muharram adalah puasa di hari ke 10 bulan muharram yaitu Asyura, karena Rasulullah saw melakukannya dan memerintahkannya juga pada para sahabat.

 

Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata :

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

 

Namun akan lebih baik jika diiringi juga dengan berpuasa di hari Tasu’ah yakni berpuasa pada tanggal 9 Muharram. Karena ada sebagian ulama yang berpendapat di makruhkannya (tidak disukainya) berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, karena menyerupai orang-orang Yahudi, tapi ulama lain membolehkannya meskipun pahalanya tidak sesempurna jika dikaitkan dengan puasa sehari sebelumnya.

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam punya keinginan berpuasa pada hari kesembilan (tasu’ah) sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut.

 

Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata :

 

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan:

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)– kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan:

 

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134).

Mari kita tunaikan amalan ini.

Semoga bermanfaat.

Sumber: jejakiman