Sang Pemilik Kebesaran di Balik Kesederhanaan

Sang Pemilik Kebesaran di Balik Kesederhanaan

August 20, 2018 0 By maya

Sang Pemilik Kebesaran di Balik Kesederhanaan – “JANGANLAH engkau menjerumuskan diriku ke dalam fitnah, wahai Amirul Mukminin?” Jawab Said Bin Amir ketika ditawari jabatan walikota.

“Tidak, demi Allah aku tidak akan membiarkanmu menolak. Apakah kamu hendak membebankan amanah dan Khalifah di atas pundakku lalu kamu meninggalkan diriku begitu saja?” Dengan suara tegasnya ketika mendengar jawaban penolakan dari Sa’id Bin Amir untuk diserahi amanah sebagai walikota Homs, Suriah.

Sa’id Bin Amir ialah sahabat Rasulullah yang utama walaupun namanya tidak banyak yang mengetahuinya dibandingkan dengan sahabat Rasull lainnya namun Ia tidak pernah absen dalam perjuangan dan jihad yang dihadapi Rasulullah. Sa’id masuk Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar. Sejak masuk islam dan berbaiat kepada Rasullullah, seluruh kehidupannya, eksistensi dan nasibnya dibaktikan untuk kepentingan islam dan Rasulullah.

***

Ketika dalam suatu kumpulan orang banyak melihat sosoknya tidak ada suatu keistimewaan yang memikat perhatian dalam dirinya, ia hanya salah seorang anggota regu tentara dengan tubuh yang berdebu dan rambut yang kusut, penampilannya tidak jauh berbeda dengan golongan miskin lainnya dari kaum muslimin tetapi dibalik itu semua ia adalah sosok yang sederhana, bersahaja, taat, soleh sikapnya yang zuhud melekat pada dirinya.

Wilayah yang akan dipimpin oleh Sa’id merupakan wilayah yang modern dan besar pada masa itu, menjadi pusat perdagangan yang penting. Banyak tempat yang dijadikan sebagai tempat berfoya-foya dengan gemerlapnya dunia, wilayah yang penuh godaan dan rangsangan duniawi.

Pantas saja Umar memilihnya untuk mengemban amanah tersebut. Umar sudah mempertimbangkannya dengan tajam dan sempurna, tak sekedar penglihatan semata dan penampilan luar. Hanya Sa’id sosok pilihan suci yang tidak akan terpedaya oleh setan manapun.

***

Berangkatlah Sa’id dan istrinya ke Homs yang waktu itu masih pengantin baru. Ketika menjalani kehidupan di daerah tersebut sudah mapan, istrinya pun bermaksud menggunakan haknya sebagai istri dari suami yang menjabat walikota dengan membelikan pakaian yang layak dan perlengkapan rumah tangga, lalu sisanya di simpan. Tetapi Sa’id memilih untuk menggunakan harta tersebut untuk diperdagangkan di jalan Allah yaitu menginfakannya. Walaupun sang istri kecewa menyesal karena tidak jadi dibelikan keperluan hidup dirinya tapi kekecewannya berubah ketika Sa’id mengatakan “Aku mempunyai rekan-rekan yang telah lebih dulu menemui Allah dan aku tidak ingin menyimpang dari jalan mereka, walau ditebus dengan dunia dan segala isinya.”

Sang istri pun diam dan sadar tidak ada yang lebih utama baginya daripada meniti jalan kebahagian untuk akhirat. Akhirnya ia berupaya mencontoh sifat zuhud dan ketakwaan suaminya.

***

Wahai Sa’id rakyatmu mengadukan 4 perkara kepadaku, “ujar Umar kepadanya.” Ketika melakukan kunjungan ke daerah Homs.

Mereka mengeluhkan perkara-perkara dari dirinya:

1. Ia tidak keluar untuk menemui mereka hingga menjelang siang

2. Ia tidak mau melayani orang pada waktu malam hari

3. Setiap bulan ada dua hari di mana ia tidak mau keluar untuk mereka, sehingga mereka tidak bisa menemuinya.

4. Ada satu lagi yang sebetulnya bukan merupakan kesalahannya, tapi mereka merasa terganggu, saat ia sewaktu-waktu jatuh pingsan.

Sa’id pun melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Kenapa ia tidak keluar menemui mereka hingga menjelang siang. Keluarganya tidak punya pelayan, sehingga ia yang membuat adonan tepung dan membiarkannya mengembang lalu membuat roti setelah itu berwhudu untuk solat Dhuha. Barulah ia menemui mereka.

Adapun jawaban kedua kenapa Sa’id tidak mau melayani mereka pada waktu malam hari. Bahwa ia sudah menyediakan siang bagi mereka sedangkan malam hari waktunya menemui Allah.

Keluhan ketiga mereka kenapa ia tidak bisa ditemui dua hari setiap bulannya. Bahwa Sa’id tidak punya pelayan yang bisa mencucikan pakaiannya sedangkan ia tidak punya baju yang lain, ia memanfaatkan hari itu untuk mencuci dan menunggu sampai kering barulah di akhir siang bisa menemui mereka.

Wajah Umar berseri-seri ketika mendengar jawaban dari Sa’id dan berkata, “Alhamdulilah.” Pengaduan itu mengandung berkah sehingga terungkaplah sosok dari satu kebesaran pribadinya sebagai seorang pemimpin, kebesaran yang sangat menakjubkan.

Sa’id pun melanjutkan keluhan warganya tentang kenapa ia sewaktu-waktu jatuh pingsan. Karena mengingatkan kejadian dulu ketika berada di mekah pernah menyaksikan Khubaib Al-Anshari jatuh tersungkur, tubuhnya disayat-sayat oleh orang-orang Quraisy dan menyeret tubuhnya, mereka berkata “maukah tempatmu ini digantikan oleh Muhamad, sedangkan kamu berada dalam keadaan sehat wal afiat?” Waktu itu Khubaib menjawab” Demi Allah, aku tidak ingin tinggal dalam keselamatan dan kesenangan dunia bersama anak dan istriku, sementara Rasulullah ditimpa bencana, walau hanya tusukan duri sekali pun.

Setiap teringat peristiwa itu, tubuhnya gemetar takut akan siksa Allah karena ia teringat telah berpangku tangan dan tidak mengulurkan tangan untuk menolongnya, sehingga ia sering pingsan kala teringat peristiwa tersebut.

Berakhirlah kata-katanya, matanya basah oleh air mata suci dan tersedu-sedu menangis. Umar pun tak mampu menahan rasa harunya larut oleh suasana. “Alhamdulilah, dengan taufikNya firasatku tidak meleset,” bisik Umar. Lalu Umar merangkul dan memeluk Sa’id, mencium keningnya yang mulia dan bersinar cahaya.

***

Sesuai dengan kinerja dan jabatanya sebagai walikota, uang tunjangan dan gaji yang diperolehnya sangat besar. Mengambil uang tersebut hanya sebatas keperluan diri dan istrinya saja. Sisanya ia infakan kepada yang membutuhkan.

***

Tahun 20 H Sa’id pun menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu meninggal menjumpai Rasulullah. Ia tidak membawa beban dunia yang akan membebani di akhirat. Hanya kezuhudan dan ketakwaan yang ia bawa. Ialah Sa’id Bin Amir sang pemilik kebesaran dibalik kesederhanaan. Wallahu a’lam.

Sumber: islampos