Tingkatan Cinta Dalam Islam

Tingkatan Cinta Dalam Islam

April 10, 2018 0 By novi

Cinta. Membicarakan soal cinta memang tiada habisnya. Bukan masalah cinta penyebab galau, atau kisah antara dua insan lawan jenis. Cinta tak sesempit itu. Cinta memiliki makna yang besar dan luas, bisa perasaan cinta terhadap sesama, cinta terhadap setiap ciptaan Allah, dan masih banyak cinta-cinta lain.

Islam memandang cinta sebagai hal yang lumrah dimiliki oleh setiap manusia. Terlebih cinta terhadap Sang Pencipta dan Rasulullah, tak aka nada habis-habisnya.  Ada berbagai jenis cinta, dan jangan sampai kita salah menempatkan cinta kita terhadap sesuatu. Misalnya saja lebih mencintai artis idola, sampai berbuat yang berlebihan. Atau lebih mencintai hobi, seperti memancing hingga lupa waktu untuk beribadah. Cinta-cinta itulah yang justru tidak disukai Allah karena berlebihan. Jangan sampai kita menempatkan cinta kita di tempat yang salah.

Seorang ulama abad ke-7 Ibnul Qayyim Al Jauzy membagi 6 tingkatan cinta. 6 Tingkatan ini adalah urut-urutan mana yang harus kita cintai pertama kali, mana yang menjadi prioritas dalam mencintai dari yang paling utama hingga yang paling akhir.

 

1. Tingkatan Tatayyum

Tatayyum (Penghambaan) adalah tingkatan tertinggi dalam mencintai, dan hanya hak Allah semata. Tiada lain yang berhak kita cintai pada tingkatan ini, kecuali Allah SWT. Mungkin banyak kerap melontarkan kata-kata rayuan pada pasangan, memang tidak sepenuhnya salah, terlebih untuk menjaga keharmonisan. Namun, perlu diingat mencintai pasangan kita berbeda dengan mencintai Allah.

Pada tingkat inilah harus dibedakan. Karena yang patut kita cintai hanya Allah semata.

 

2. Tingkatan ‘Isyk

‘Isyk atau kemesaraan, adalah cinta yang menjadi hak Rasulullah SAW, cinta kepada teladan kita, kepada junjungan kita hingga menjadikan kita untuk selalu berusaha mengikuti apa yang beliau lakukan, mengerjakan sunnah-sunnahnya, dan selalu bershalawat padanya.

“Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku (Nabi) maka Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian (Q.S : Ali imran 3)”

Kecintaan kita kepada Rasulullah SAW adalah kecintaan yang Allah perintahkan. Semoga dengan mengetahui hal ini kita menjadi lebih bangga lagi menjadi umat Rasulullah SAW serta dengan bangga pula menjalankan serta menyerukan sunnah-sunnahnya.

 

3. Tingkatan Syauq

Syauq (kerinduan) adalah cinta antara satu mukmin dengan mukmin lainnya namun lebih dekat secara kekeluargaan. Seperti cinta ayah dan ibu kepada anaknya, cinta kakak kepada adik, cinta antara suami kepada istrinya. Karena cinta ini jugalah manusia saling berkembang meneruskan keturunannya. Pada tingkatan inilah, cinta kita terhadap sesama keluarga.

 

4. Tingkatan Shababah

Shababah atau empati adalah cinta sesama muslim dalam lingkup yang lebih luas. Walau tak saling mengenal, tidak ada kedekatan secara darah, daerah, bahkan bangsa sekalipun namun dipersatukan oleh satu kalimat tauhid “Laa ilaha illallah” .

Hubungan yang didasari oleh ikatan cinta shababah inilah yang menguatkan kita sesama muslim untuk bisa saling merasakan satu sama lain. Untuk saling menolong dan membantu satu sama lain jika saudara kita terkena ancaman atau musibah.

 

5. Tingkatan ‘Athf

‘’Athf  (simpati) bicara tentang sisi kemanusiaan, jadi pada tingkatan ini adalah bagaimana kita bersimpati kepada sesama manusia tanpa melihat apapun suku, bangsa bahkan agamanya sekalipun. Maka jika dia dalam kesulitan, maka alasan sesama manusia cukup bagi kita untuk memberikan bantuan serta pertolongan padanya.

 

6. Tingkatan Aqalah

Aqalah adalah tingkatan terendah dalam tingkatan-tingkatan cinta, apa itu aqalah? Cinta yang tidak begitu dalam, yakni hubungan biasa. Bisa saja cinta kita terhadap harta benda, dan kehidupan duniawi yang hanya bersifat sementara.

Dengan mengetahui tingkatan-tingkatan dalam cinta, semoga dapat membuat kita lebih mencintai Allah lebih dari apapun, dan menempatkan cinta kita kepada Allah di tingkat tatayyum. Dan, menempatkan cinta kita sesuai dengan tingkatannya, dan tidak ada keberlebihan yang membuat kita melalaikan kewajiban.

Semoga bermanfaat.

Referensi: Elmina dan Hadilla